Semburat Fajar Utara (Pemenang Lomba Karya Tulis 2016 Kategori Cerpen)

January 8, 2017 Uncategorized  No comments

Memandangimu, layaknya menikmati semburat fajar utara di Pegunungan Alaska. Meskipun berada di tempat yang dingin, namun keindahanmu mampu mengalihkan pikiran ke dalam kehangatan.

Kelaspertama di harisenintelahselesai, ku tak kuasa untuk memperlihatkan sobekan kertas ini pada Gema. Kulipat dan kusimpan kertas itu ke dalam saku kemeja. Aku masih terduduk, terkesima mendengar lantang suaranya tadi ketika ia berinteraksi di hadapan teman satu kelas.

“Kamu tidak lapar?” tanya Deta.

“Belum. Kamu duluan saja.”

“Jangan gaul sama buku kalkulus teruskakak!”  Misa paling sering menceramahiku agar aku terlihat seperti teman-temanlainnya.

“Tapi, aku tidak lapar, kok! Bagaimana kalau kulinernya, habiskelasterakhirsaja? Kita ke alun-alun kota.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.

“Bolehlah. Traktiran ’kan?”timpalMelin cepat.

Aku anggukan kepala dan mengacungkan ibu jari.

Setelah mereka bertiga benar-benar yakin meninggalkanku di kelas, aku ingin sekali melirik ke belakang. Tak ada yang menggancu kepalaku agar memutarkan kepala. Namun aku penasaran, apakah ia masih berada di tempat duduknya? Karena biasanya, buku,ponsel beserta earphone-nya, tidak pernah lepas dari genggamannya.

Ia memang rivalku.Aku tak pernah ingin kalah darinya dari segi pelajaran apapun, apalagi kalkulus.Aku sangat menyenangi matematika, begitu pun Gema. Ia tak pernah mengalah untuk menjawab soal yang kita anggap sulit. Itu sebabnya aku tidak ingin menyainginya, aku hanya bermaksud untuk menyelaraskan kesempurnaannya.

Ritme langkahnya sudah jelas, ia sedang berjalan ke arahku. Pasti ada soal yang tidak bisa ia pecahkan dan mengajakku untuk mendiskusikannya. Namun kali ini, aku sedang tidak bersama ketiga sahabatku. Aku gugup jika harus duduk berdua saja dengannya.

“Kamu masih ingat cara mengerjakan soal ini?” tuturnya yang sangat lembut, mendarat tepat di gendang telingaku. Aku berusaha mencoba menstabilkan aliran darah, juga memperkecil pori-pori keringat agar aku terlihat biasa dihadapannya.

Aku tersenyum ketika ia menyodorkan selembar kertas dengan penuh coretan angka. Perlahan aku tertawa untuk menyembunyikan raut wajah maluku.

“Kamu yakin tidak bisa mengerjakan soal ini? Menurutku ini sangat mudah.”

Ia dengan saksama mendengarkan semua logika yang aku jelaskan. Iasesekali menyanggah pembicaraanku.

“Ternyata benda kecil itu punya manfaat yang luar biasa ya? Di fisika dan kimia kita mengenal atom. Di biologi kita mengenal virus.” tiba-tibaia memotong pembicaraan tanpa permisidankeluardaripembahasankita.

Sikap seperti ini yang aku tidak suka darinya. Aku hanya mengiyakan dan menganggukan kepala.Ia melanjutkan pernyataanya dengan sepenggal argumen.

“Virus itu, meskipun kecil dan tidak terlihat tapi organisme ini sangat besar dampaknya,  contohnya saja TMV (Tobacco Mosaic Virus) yang telah ditemukan oleh Wendell M. Stanley, mampu menyerang tanaman bakau yang sangat besar dan kuat. Begitupun dengan cinta, meskipun kasat mata dan tidak bisa dilihat keberadaanya, tapi kita bisa merasakan betapa besar dampak cinta itu.”

Aku terkejutatas ucapannya. Ia begitu indah, sekali lagi sangat indah. Fajar utara telah datang tanpa berita, sangat dekat, namun tak mampu aku mengenggamnya.

***

Sangat jarang sekali, di bulan Desember seperti ini aku dan teman-teman bisa bermain ke alun-alun kota. Biasanya lebih dari jam tiga, langit sudah tampak gelap disertai guyuran air yang membasahi jalanan. Tenda-tenda kecil berbentuk jamur, dijadikan tempat berteduh oleh para pedagang.

Angin kencang yang menyeret awan-awan gelap itu ke arah utara seakan menjadi-jadi seraya mengetahui ada hati yang sedang terapung-apung mencari sebuah pelabuhan.

“Rin, jadi ya traktirannya, sekalian buat pajak jadiannya juga.” Melin mengingatkanku, tapi ia menambahkan ucapan yang lucu kudengar.

“Hah?” Aku mengerutkan kening. Aku tak tahu siapa orang yang ia maksud. Entah dari penjuru mana kabar angin itu datang.

“Pantas saja tidak mau ikut ke kantin. Ternyata mau berduaan di kelas?”Misa ikut menambahkan pula. Kali ini clue mereka cukup aku mengerti.

“Berdua apa?”

“Tadi kita lihat kok, waktu kalian duduk berdua.”

“Iya, hanya berdua di dalam kelas.” Mereka sangat senang menggodaku, sampai-sampai pembuluh darahku pecah dan seluruh wajahku memerah.

“Tadi aku memang duduk berdua dengannya, tapi hanya mengerjakan soal kalkulus Integral, tugas yang kemarin, itu saja. Itu pun hanya satu soal, tidak lama.” Aku harap mereka menerima penjelasanku.

“Iya, iya kita percaya kok Rin!” Semuanya tertawa. Sepertinya mereka belum sepenuhnya percaya atas semua ucapanku.

Semakin jelas lembayung senja hadir, semakin banyak saja kaki yang datang menginjak teras kota ini. Pohon-pohon besar menjadi atap kesederhanaan mereka. Semua golongan menyatu dalam keriuhan.

Di sela-sela keramaian, adabnya sungguh berbeda. Ia sangat mencolok. Aku tak menyangka dapat bertemu dengannya, setelah baru saja aku dan ketiga sahabatku membicarakannya.

Masyaallah, Gema itu benar-benar makhluk Allah yang indah ya, Rin?” Tanya Melin sambil menyenggol bahuku.

“Benar Mel, sepertinyadiamembelikan makanan buat anak-anak jalanan.” Lanjut Deta.

“Belum lagi, sepertinya buku rumus-rumusnya itu gak pernah dia lepas kali ya? Gak di kantin, di jalan apalagi di sekolah bukunya nyantol terus.” Misa tak ingin kalah beropini.

“Kamu tidak ingin menghampirinya?” Tanya Melin kembali.

Kali ini aku hanya mampu menggelengkan kepala, aku malu harus menyapanya di luar sekolah. Namun sungguh, dalam hati aku bertasbih memujiMu, engkau ciptakan khalifah yang mampu membawa penglihatan, pendengaran bahkan hati tertuju padanya.

***

Seperti biasa, kelas pagi sangatlah membuat panic mahasiswa yang memutuskan untuk tidak ngekost. Meskipun tidak ngekost, bukan berarti jarak rumah mereka dengan kampus itu dekat.Namun,jarak yang lumayan jauh juga tidak boleh dijadikan alas an sekiranya ada mahasiswa yang dating terlambat.

Pukul06.50 Pak Surya, guru Fisika Umum kelas kami sudah standby di depan laptopnya. Sepuluh menit lagi tirai putih berukuran 1,5×3 meter yang terbentang pada papan tulisakan menampilkan pembahasan materi yang telah beliau rancang.

***

Napasku sudah tidak karuan, harus berpacu dengan waktu agar aku tidak datang terlambat. Jalan dari gate  utama menuju gedung FPMIPA B sekitar1 km. Kampus seluas ini, sangat cocok untuk latihan atlet lomba lari.Namun, sekarang bukan saat yang tepat. Tiba-tiba seseorang meneria kiku dari sepedanya.

“Rinda, ayo ikut denganku. Tujuh menit lagi kelas mau dimulai.” ajak Gema. Jaketnya terlihat basah, aku tidak tega harus menambah berat goesannya.

“Tidak, kamu duluan saja Gema. FPMIPA B kan sudah dekat, nanti aku akan menyusulmu sampai ke kelas.”

“Kamu itu bandel ya! Ya sudah aku akan menemanimu jalan kaki saja, jadi biar sportif sampai ke kelasnya.”

Pasti ia tidak tega membiarkan seorang wanita harus berjalan, dan kesiangan sendirian.

Kami sampai di hadapan pintu ruangan A-306 tepat pada pukul 07.03 menit.Khusus bagi pelajaran Pak Surya ini, bagi siswanya yang telat, kehadiran tidak akan berlaku.

“Tumben kalian telat?”

“Maafkan kami Pak, apakah kami boleh mengisi daftar hadir hari ini, Pak?” Bujuk diri ku memelas.Sedangkan teman di sebelah ku hanya tersenyum kecil, menertawaiku yang sedang kepanikan.Mungkin baginya, absen satu kali tidak akan merepotkan, tapi bagi aktivis sepertiku yang sering harus dispen, absen hanya karena masalah sepele

Seperti ini sangat merugikan.

Mungkin beliau kasihan memandang raut wajahku.Akhirnya, Pak Surya memperbolehkan  kami mengisi absen lalu mempersilakan aku untuk duduk, namun Gema malah disuruh nya untuk mengunjungi ruang Rektor.

Aku menerka-nerka isi pembicaraan Pak Rektor pada Gema.

***

Bulan Februari, sebentar lagi angin muson timur akan dating mengantar musim, di mana setiap orang dapat bermain leluasa di luar rumah, tanpa takut basah.Namun, di musinini pula,sebentar lagisemburatnya akan menghilang. Meskipun matahari tak lagi tertutup awan, namun pegunungan alaska akan tetap terasa dingin. Aku rasa aku tak mampu lagi menyelaraskan kesempurnaanya. Aku hanya mampu diam dalam mengaguminya. Semakin hari aku terus menenggelamkan diri. Aku tak berani menampakkan wujudku dengan semua kekuranganku.

“Rin, kamu kemana? Kenapa tidak ikut mengantar Gema? Padahal Rektor sama Dekan saja menemaninya.” tanya Melin.

Ketiga orang sahabatku ini menghampiri kesendirianku di kelas.

“Sebelum Gema pergi, ia menitipkan surat ini padaku.” Secarik kertas yang telah dilipat, Melin simpan di atas meja.

Mereka bertiga sangat mengerti keadaanku, mereka kembali membiarkanku sendiri. Memberiku waktu untuk menerima isi surat dari Gema. Perlahan lipatan surat yang hampir lusuh itu kubuka.

Assalamu’alaikum wr.wb.

Bersandar pada sebuah harap.

Rin, aku sangat ingin mengucapkan terima kasih kepadamu. Karena semua keistimewaanmu, aku mampu pergi ke Sorbone sekarang. Mungkin kamu akan bertanya kenapa. Namun, memang kamulah yang telah mengacu semangatku dalam belajar. Kamu yang menjadi barometer dalam mengukur kerja kerasku di kelas. Kamu yang menjadi pompa untuk membangun semua cita dan harapan masa depanku.

Aku sudah lama mengukir semua tentangmu, meski hanya sunyi. Karena aku takut,menganggu kosentrasi belajarmu di kelas. Aku hanya dapat melihatmu dari jauh. Namun, aku selalu bersyukur pernah diberi kesempatan dapat satu kelas denganmu,berlomba mengerjakan soal kalkulus denganmu.Dan juga pernah diberi kesempatan untuk merasakan terlambat bersamamu. Itu adalah hari-hari yang berharga bagiku.

Rin, setelah aku pulang dari Sorbone nanti, aku akan menyusulmu ke Universitas di Bandung. Aku harap kamu akan menungguku.

Aku tak menyangkan ternyata ia bukan bersembunyi. Selama ini ia telah memancarkan pula sinarnya, bahkan tertuju padaku. Aku berjanji akan menunggu fajar utara itu menyemburat kembali, tepat dihadapanku.

 

 

 

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>